Minggu, Februari 1, 2026
Majalah Mitos
No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
Majalah Mitos
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
No Result
View All Result
Majalah Mitos
No Result
View All Result
Home Mitos

Karaeng Ta Data 

Raja yang Menghilang Secara Gaib

Ali Mitos by Ali Mitos
Mei 8, 2025
in Mitos
Karaeng Ta Data 
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

MITOS | Makassar  —  Karaeng Ta Data atau Abubakar Karaeng Ta Data Bin Amas Madina Batara Gowa raja Gowa yang ke XXVl (26), oleh masyarakat umum dikenal dengan nama Karaeng Sayanga ri Beba (Raja yang gaib di Beba).

Sewaktu berumur 8 tahun ayahnya wafat dalam keadaan bergerilya menentang kekuasaan VOC dan pasukan raja Gowa yang di tunjuk VOC. Mendengar wafatnya Batara Gowa, sebagian besar rakyat Gowa memilihnya sebagai pemimpin perjuangan melawan VOC walaupun Dia masih belia.

Karena banyaknya orang-orang yang berjuang mengatas namakan titisan Batara Gowa, Karaeng ta Data tampil dikerajaan Gowa tahun 1798. Dan memaklumatkan dirinya sebagai Sombayya ri Gowa menggantikan ayahnya Batara Gowa atas desakan sebagian besar rakyat Gowa.

I Mannawari Kr. Bontolangkasa Sultan Abdul Hadi sebagai Raja Gowa pada waktu itu dan dibantu oleh pasukan VOC kemudian memeranginya.

Karena mendapat tantangan dari VOC maka Dia berangkat ke Ambon dan Flores untuk berlindung kepada pejuang-pejuang Gowa yang terlebih dahulu berada disana.

Pada tahun 1812, Karaeng Ta Data meminta izin kepada resident inggris Richart Philips yang kebetulan berlabuh di pulau Ambon untuk bersurat kepada pimpinan VOC, agar Dia diberi tempat untuk menetap disalah satu negeri di kerajaan Gowa. Kemudian menetap di Beba, Galesong.

Di Beba, Karaeng Ta Data mengajarkan ajaran agama islam dari kitab-kitab yang diwariskan dari buyutnya yaitu Syekh Yusuf. Dia sering melakukan bacaan Ratib (Rate) setiap malam senin dan malam Jumat di kediaman Karaeng Galesong.

Setiap pengajian yang dilakukannya dihadiri oleh seluruh rakyat Galesong dan daerah-daerah lain di kerajaan Gowa. Rupanya, VOC dan para sekutunya tidak senang akan tindak-tanduk yang dilakukan olehnya yang sering mengumpulkan massa.

Baca Juga  Misteri Makam Tujua Karebosi

Mereka khawatir Karaeng Ta Data akan melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan raja Gowa yang diangkat oleh VOC Belanda. Popularitas I Mappatunru Karaeng Lembangparang sebagai raja Gowa yang menggantikan Karaeng Bontolangkasa kalah berkilau dibandingkan dirinya yang merupakan anak dari Batara Gowa, raja Gowa yang saat ini masih dianggap belum mati dan merupakan raja yang sah pilihan rakyat Gowa, bukan pilihan Belanda.

Dia sendiri tidak tinggal diam, mengetahui rencana licik VOC dan sekutunya itu. Dia kemudian menghimpun kekuatan dengan merekrut tiga pengawal (pallapa barambang) : Gunturuna I Da Depo, Kilana I Sanro Nanda, Bosi Sarrona Garanci Dg. Malala.

Selain itu, dia dilindungi oleh orang-orang yang siap mati untuknya bergelar cambang. Diantaranya : Cambang Manggarai, Cambang Raulo, cambang Bissoloro, Cambang Mangga, Cambang buki tanah, Cambang Mammesu, Cambang Moncongang, Cambang Rubia.

Ternyata dugaan Karaeng ta Data benar, karena pada tanggal 20 agustus 1819 komandan VOC, La Fontaine beserta pasukannya dibantu karaeng Bonto lebang dan Karaeng Polong Bangkeng mengepungnya dibantu oleh Fran Kombatari (karaeng Manggarai) bersama pengawal dan para cambang yang siap mati untuknya.

Pada mulanya, dia tidak melakukan perlawanan dan menerima untuk dibawa oleh La Fontaine menghadap raja Gowa. Di kediamannya sebelum mengikuti kemauan VOC, Karaeng Ta Data meminta siapa diantara pengikutnya yang siap mati untuknya, semua orang pada waktu itu mengajukan diri untuk menggantikan posisinya ditawan bahkan dibunuh oleh VOC.

Mendengar kesetiaan mereka, dia begitu terharu dan sempat mendoakan seluruh pengikutnya kepada Tuhan. Pada waktu itu Cambang Raulo yang terpilih menggantikan posisinya berdasarkan munajatnya kepada Tuhan. Dia kemudian memakaikan jubahnya kepada cambang Raulo, ajaibnya seketika itu pula wajah Cambang Raulo berubah sangat mirip dengannya. Sehingga tak satupun orang mengenal yang menyangsikan kemiripan tersebut.

Baca Juga  Bertemu Setan Longga'

Cambang Raulo yang wajahnya telah berubah seperti Karaeng Ta Data kemudian ikut kepada komandan La Fontaine. Pengikutnya berada ditengah-tengah antara pasukan VOC di depan dan pasukan karaeng Bontolebang serta pasukan Karaeng Polongbangkeng berada pada bagian belakang. Mereka dibawa hingga kedaerah Passimbungan, Galesong. Disanalah mereka melakukan serangan secara tiba-tiba yang sangat tidak disangka oleh pasukan VOC dan sekutunya. Pada peristiwa itu Cambang Raulo tewas terbunuh oleh VOC.

Setelah tewasnya Cambang Raulo pasukan VOC menganggap bahwa Karaeng Ta Data telah mati. Pada peristiwa perang di Passimbungang itu kejadiannya sangat heroik sehingga ada syair yang terkenal untuk memperingati kejadian itu. “ jai pale tonjong ri mawang, jaingan ri Bissei, jai angngang pole capiona sarani” artinya ; Banyak teratai di danau mawang, banyak lagi di bissei, namun lebih banyak lagi topi serani (VOC) artinya lebih banyak lagi Belanda yang mati.

Jasad yang dianggap Karaeng Ta Data kemudian dibawa ke markas VOC, ketika di identifikasi ternyata ada yang mengenali jasad tersebut sehingga diketahuilah yang wafat bukan karaeng Ta Data karena jasad yang memakai jubahnya orangnya memiliki cambang sedangkan Dia tak memiliki cambang. Komandan La Fontaine beserta sekutunya kemudian kembali ke Galesong untuk mencarinya.

Karaeng Ta Data kemudian menampakkan dirinya di daerah Kalongkong, Galesong. Sebagai tanda keberadaanya, Dia menancapkan bendera kebesarannya disamping pohon asam kecil dan berikrar : “bila kelak tiba masanya aku akan pergi, kelak akan kembali, bila batang dahan dan ranting pohon asam kecil ini jadi kuat”.

Kemudian Karaeng Ta Data mengunjungi kediaman Karaeng Galesong untuk berpamitan. Setelah makan bersama dengan karaeng galesong dengan hidangan ayam aduan karaeng, Dia menanggalkan jubahnya dan diberikan ke karaeng galesong untuk kenang-kenangan. Dia kemudian memakai baju karaeng Galesong dan pergi bersama I Sonra Dg. Malo karaeng Belobambaya ke poppolok dan barammate. Kemudian Setelah itu Dia kemudian menghilang secara gaib di hadapan orang-orang .

Baca Juga  Kisah Mistis Pabrik Tekstil Angker

Bersama dengan gaib dirinya dipesisir pantai Beba samar-samar terdengar suaranya yang merupakan pesannya yaitu : “Boya ka ri taenaku, assenga ri maniaku, naija antu, nama nassa, taenaku, la panakammula punna latappumo” artinya : Carilah aku dalam ketiadaan, kenallah dalam keberadaanku, aku sesungguhnya ada, namun yang jelas aku tiada, baru aku kembali bila telah dilupakan orang”.

Sampai saat ini dipesisir pantai Beba, tanda kegaiban tubuhnya masih dikenang dengan sebuah pondok sederhana yang terbuat dari kayu yang di dalamnya ada sebuah nisan seperti kuburan, padahal sesungguhnya disitu hanyalah bekas telapak kakinya saja. Pondok itu dibangun oleh para peziarah yang setia mengunjungi tempat itu untuk mendapatkan berkah._Mitos/ Awing/dar_

Dibaca Oleh: 406

Berita Lainnya

Ilmu Hitam
Mitos

Menguak Misteri di Balik “Doti: Tumbal Ilmu Hitam”

by Ali Mitos
Juli 23, 2025

MITOS | Makassar  --  Film horor Indonesia kembali hadir dengan menawarkan nuansa mistik yang menegangkan: "Doti: Tumbal Ilmu Hitam". Diproduseri...

Read more
Menghindari Gangguan Genderuwo
Mitos

Menghindari Gangguan Genderuwo

by Ali Mitos
Mei 8, 2025

MITOS | Makassar  ---  Cara Menghindari Gangguan Genderuwo. Ada mitos menarik yang mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan tidur dalam keadaan...

Read more
Mitos Genderuwo
Mitos

Mitos Genderuwo

by Ali Mitos
Mei 8, 2025

MITOS | Makassar  ---  Halo Sobat Suka Fakta! Pernahkah kalian mendengar (Mitos Genderuwo) cerita horor tentang Genderuwo? Ya, makhluk gaib...

Read more

Discussion about this post

No Result
View All Result

Kategori

Mitos (22) Mitos Hiburan & Gaya Hidup (42) Mitos Pendidikan dan Teknologi (84) Mitos Reportase Cilik (52) News & Advertorial (186)
footer-01

PT. Mitos Tujua Utama
Jl. Andi Djemma 7 No.12
Rappocini, Makassar, Indonesia
Email : majalahmitos@gmail.com
Telp/WA : 085240876013

2024 © MAJALAHMITOS.COM | Dibuat Oleh mike'S

No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK