Minggu, Februari 1, 2026
Majalah Mitos
No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
Majalah Mitos
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
No Result
View All Result
Majalah Mitos
No Result
View All Result
Home News & Advertorial

Primbon Lontara Bugis

( Bagian 1 )

Ali Mitos by Ali Mitos
Maret 31, 2025
in News & Advertorial
Primbon Lontara Bugis
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

MITOS | Makassar  —  Primbon, berasal dari bahasa Jawa yang berarti peruntungan, memiliki relevansi yang kuat dalam budaya Bugis. Di masa lalu, masyarakat Bugis menggunakan primbon lontara bugis sebagai pedoman untuk menentukan bulan dan hari-hari baik dalam melaksanakan berbagai kegiatan, seperti pernikahan, panen, atau perjalanan.

Pengaruh budaya Islam sangat terlihat dalam primbon lontara versi Bugis ini, di mana penanggalan Islam menjadi acuan utama. Selain itu, perhitungan hari didasarkan pada peredaran bulan, yang mencerminkan kearifan lokal dalam mengamati alam. Sehingga, primbon tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk meramalkan keberuntungan, tetapi juga sebagai panduan spiritualspiritual yang mengaitkan aktivitas sehari-hari dengan nilai-nilai keagamaan.

Primbon yang dikenal di kalangan masyarakat Bugis sebagai Lontara memiliki makna yang mendalam dan kaya akan nilai-nilai budaya. Lontara ini ditulis di atas daun lontar atau enau, yang merupakan media penulisan tradisional yang telah digunakan sejak zaman dahulu.

Dalam konteks budaya Bugis, primbon lontara bugis bukan hanya sekadar catatan, tetapi juga merupakan warisan yang mengandung kearifan lokal, ajaran moral, dan panduan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Keluarga H. Syamsuddin, yang merupakan salah satu penjaga warisan ini, telah menyimpan primbon lontara bugis tersebut selama bertahun-tahun. Mereka menganggapnya sebagai peninggalan berharga dari nenek moyang mereka yang berasal dari Kabupaten Bone, sebuah daerah yang kaya akan sejarah dan tradisi.

H. Syamsuddin menjelaskan, “Nenek kami dulunya adalah salah satu panrita (ulama) di kerajaan Bone.” Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya peran keluarganya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak lama. Dalam tradisi Bugis, panrita memiliki posisi yang sangat dihormati, sebagai pemimpin spiritual dan penuntun masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam pertemuan dengan MITOS di kediamannya di Angkona, Kabupaten Luwu Timur, H. Syamsuddin dengan sukarela mengartikannya. Ia berharap agar isi primbon lontara bugis ini dapat disampaikan kepada masyarakat sebagai pedoman hidup yang bermanfaat.

Primbon lontara bugis berisi berbagai informasi penting, termasuk ramalan, petunjuk tentang waktu yang baik untuk melakukan berbagai aktivitas, serta nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan spiritual. Misalnya, Lontara memberikan panduan tentang waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan, kapan waktu yang tepat untuk menanam padi, atau kapan sebaiknya melakukan perjalanan.

Semua ini didasarkan pada pengamatan terhadap alam dan peredaran bulan, yang menunjukkan betapa masyarakat Bugis sangat menghargai hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

Lontara juga mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bugis. Dalam konteks ini, primbon lontara bugis berfungsi sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas.

Di tengah arus globalisasi dan perubahan zaman yang cepat, penting bagi generasi muda untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka. H. Syamsuddin berharap bahwa dengan memahami dan mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Lontara, generasi muda dapat menemukan identitas mereka dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Selain itu, Lontara juga berperan dalam memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di antara masyarakat. Dengan mengikuti pedoman yang ada dalam Lontara, masyarakat Bugis dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menjalani berbagai aspek kehidupan.

Hal ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dan memperkuat komunitas, yang merupakan salah satu nilai inti dalam budaya Bugis.

Melalui upaya H. Syamsuddin dan keluarganya, diharapkan primbon lontara bugis dapat terus hidup dan memberikan inspirasi bagi masyarakat Sulawesi Selatan di masa depan.

Dengan mengartikannya dan menyebarluaskannya, mereka berkontribusi dalam pelestarian budaya dan tradisi yang sangat berharga. Lontara bukan hanya sekadar dokumen sejarah, tetapi juga merupakan sumber kebijaksanaan yang dapat membimbing masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Dengan demikian, Lontara akan terus menjadi bagian integral dari identitas budaya Bugis, mengingatkan kita semua akan pentingnya menghargai dan melestarikan warisan yang telah ada.

Adapun isinya adalah sebagai berikut :

Pedoman setiap bulan

Dalam tradisi masyarakat Bugis, penentuan waktu yang baik untuk melakukan berbagai aktivitas, terutama yang berkaitan dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan, sangat dipengaruhi oleh bulan-bulan dalam kalender Islam. Setiap bulan memiliki karakteristik dan pedoman tersendiri yang diyakini dapat memengaruhi keberuntungan dan kelancaran suatu kegiatan.

Berikut adalah pedoman untuk setiap bulan dalam konteks mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan, yang mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

1. Bulan Muharram

Mendirikan Rumah

Bulan Muharram, sebagai bulan pertama

dalam kalender Islam, dianggap sebagai bulan yang kurang baik untuk mendirikan rumah. Masyarakat Bugis percaya bahwa membangun rumah pada bulan ini dapat membawa banyak rintangan dan kesulitan. Kepercayaan ini mungkin berasal dari pandangan bahwa bulan Muharram adalah waktu yang penuh tantangan, di mana banyak orang lebih memilih untuk merenungkan dan memperbaiki diri daripada memulai proyek baru. Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk menunda pembangunan rumah hingga bulan yang lebih baik.

Melaksanakan Pernikahan

Selain itu, melaksanakan pernikahan di bulan Muharram juga tidak dianjurkan. Masyarakat percaya bahwa pernikahan yang dilakukan pada bulan ini sering kali berujung pada pertengkaran dalam rumah tangga. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa bulan ini membawa suasana yang kurang harmonis, sehingga lebih baik untuk menunggu waktu yang lebih baik untuk memulai kehidupan baru dalam pernikahan. Dalam konteks spiritual, bulan Muharram juga dianggap sebagai waktu untuk refleksi dan introspeksi, sehingga lebih baik digunakan untuk merenungkan kehidupan daripada memulai sesuatu yang baru.

Baca Juga  Kemenkum Gorontalo: 19 Layanan Publik Siap Ditingkatkan Kualitasnya

2. Bulan Safar

Mendirikan Rumah

Bulan Safar dianggap sebagai waktu yang baik untuk mendirikan rumah. Masyarakat Bugis meyakini bahwa rumah yang dibangun pada bulan ini akan membawa rezeki yang tiada henti. Kepercayaan ini mencerminkan optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Banyak orang yang memilih untuk memulai proyek pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan akan mengalir dalam kehidupan mereka.

Melaksanakan Pernikahan

Selain itu, melaksanakan pernikahan di bulan Safar juga diyakini akan mendatangkan keberkahan dan kelimpahan rezeki bagi pasangan yang baru menikah. Kepercayaan ini menunjukkan bahwa bulan Safar adalah waktu yang penuh dengan peluang, di mana banyak orang merasa bahwa mereka dapat memulai kehidupan baru dengan penuh harapan dan keberuntungan.

3. Bulan Rabiul Awwal

Mendirikan Rumah

Bulan Rabiul Awwal, meskipun merupakan bulan yang penuh berkah karena memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, dianggap kurang baik untuk mendirikan rumah. Masyarakat percaya bahwa jika seseorang membangun rumah pada bulan ini, mereka akan menghadapi kesulitan hidup yang berkepanjangan dan sering kali mengalami duka cita. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa bulan ini, meskipun penuh makna spiritual, tidak ideal untuk memulai proyek besar seperti pembangunan rumah.

Melaksanakan Pernikahan

Begitu pula dengan pernikahan, yang diyakini akan membawa kesusahan dalam berumah tangga jika dilaksanakan pada bulan ini. Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk menunda kegiatan penting ini hingga bulan yang lebih baik. Dalam konteks spiritual, bulan ini juga menjadi waktu untuk memperdalam iman dan meningkatkan amal, sehingga lebih baik digunakan untuk kegiatan yang bersifat sosial dan keagamaan.

4. Bulan Rabiul Akhir

Mendirikan Rumah

Bulan Rabiul Akhir dianggap sebagai waktu yang baik untuk mendirikan rumah. Masyarakat percaya bahwa rumah yang dibangun pada bulan ini akan selalu mendatangkan rezeki yang berlimpah. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan kebahagiaan dan keberuntungan dalam kehidupan berumah tangga. Banyak orang yang memilih untuk memulai pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan yang ada akan membawa kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Melaksanakan Pernikahan

Namun, jika pernikahan dilaksanakan pada bulan ini, sering kali terjadi perselisihan antara suami dan istri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bulan ini membawa keberkahan dalam hal rezeki, hubungan interpersonal dalam rumah tangga perlu diperhatikan dengan baik. Dalam banyak kasus, komunikasi yang baik dan saling pengertian menjadi kunci untuk menghindari konflik dalam hubungan.

5. Bulan Jumadil Awwal 

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa mendirikan rumah pada bulan Jumadil Awwal akan membawa rezeki yang melimpah. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan kebahagiaan dan keberuntungan dalam kehidupan berumah tangga. Banyak orang yang memilih untuk memulai proyek pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan yang ada akan mengalir dalam kehidupan mereka. Dalam konteks ini, bulan Jumadil Awwal menjadi simbol harapan dan kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Melaksanakan Pernikahan

Di sisi lain, bulan Jumadil Awwal juga dianggap sebagai waktu yang baik untuk melaksanakan pernikahan. Masyarakat percaya bahwa pasangan yang menikah pada bulan ini akan cepat akrab dan mesra, menciptakan hubungan yang harmonis. Kepercayaan ini menunjukkan bahwa bulan ini membawa suasana yang positif dan mendukung bagi pasangan yang baru menikah. Dengan demikian, bulan Jumadil Awwal menjadi waktu yang ideal untuk memulai kehidupan baru dalam pernikahan, di mana pasangan diharapkan dapat saling mendukung dan membangun kebahagiaan bersama.

6. Bulan Jumadil Akhir

Mendirikan Rumah

Bulan Jumadil Akhir memiliki karakteristik yang unik. Meskipun mendirikan rumah pada bulan ini sering kali diwarnai dengan pertengkaran dalam rumah tangga, banyak orang yang tetap melanjutkan pembangunan rumah. Masyarakat Bugis percaya bahwa meskipun ada tantangan, keberkahan dalam hal rezeki tetap dapat diraih. Namun, mereka juga menyadari bahwa ada risiko yang harus dihadapi, sehingga banyak yang memilih untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan pembangunan rumah pada bulan ini.

Melaksanakan Pernikahan

Di sisi lain, melaksanakan pernikahan pada bulan Jumadil Akhir diyakini akan membawa rezeki yang murah. Masyarakat percaya bahwa meskipun ada kemungkinan terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga, pasangan yang menikah pada bulan ini akan tetap mendapatkan keberkahan dalam hal rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam hubungan, keberkahan dalam hal rezeki tetap dapat diraih. Dalam banyak kasus, pasangan yang menikah pada bulan ini sering kali dihadapkan pada tantangan, tetapi jika mereka mampu menghadapinya dengan baik, hubungan mereka akan semakin kuat.

7. Bulan Rajab 

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa mendirikan rumah pada bulan Rajab dapat membawa risiko tertentu. Salah satu kepercayaan yang umum adalah bahwa rumah yang dibangun pada bulan ini sering kali mengalami kebakaran. Hal ini mungkin disebabkan oleh pandangan bahwa bulan Rajab adalah waktu yang penuh dengan tantangan dan ujian. Oleh karena itu, banyak orang yang memilih untuk menunda pembangunan rumah hingga bulan yang lebih baik, di mana mereka merasa lebih yakin akan keberhasilan dan keselamatan proyek mereka.

Melaksanakan Pernikahan

Di sisi lain, bulan Rajab dianggap sebagai waktu yang baik untuk melaksanakan pernikahan. Masyarakat percaya bahwa jika pasangan menikah pada bulan ini, mereka akan cepat mendapatkan keturunan. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan masa depan yang cerah dan keluarga yang bahagia. Dalam banyak budaya, bulan Rajab juga dianggap sebagai bulan yang penuh dengan rahmat dan berkah, sehingga banyak pasangan yang memilih untuk memulai kehidupan baru mereka di bulan ini.

Baca Juga  Pengawasan Partisipatif Pada Pemilihan Serentak 2024, Bawaslu Bone Rangkul Mahasiswa se-Kabupaten Bone

8. Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang sangat penting dalam kalender Islam, karena merupakan bulan sebelum bulan Ramadhan. Dalam tradisi Bugis, bulan ini juga memiliki pedoman tersendiri terkait dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan.

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis meyakini bahwa mendirikan rumah pada bulan Sya’ban akan membawa rezeki yang tiada putus. Kepercayaan ini mencerminkan optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Banyak orang yang memilih untuk memulai proyek pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan akan mengalir dalam kehidupan mereka. Dalam konteks ini, bulan Sya’ban menjadi simbol harapan dan kesempatan baru.

Melaksanakan Pernikahan

Namun, di sisi lain, melaksanakan pernikahan pada bulan Sya’ban sering kali dianggap kurang menguntungkan. Masyarakat percaya bahwa pernikahan yang dilakukan pada bulan ini dapat membawa kesulitan dan tantangan dalam kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu, banyak pasangan yang memilih untuk menunda pernikahan mereka hingga bulan yang lebih baik, di mana mereka merasa lebih yakin akan kebahagiaan dan keberuntungan dalam hubungan mereka.

9. Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam, di mana mereka menjalankan ibadah puasa dan meningkatkan amal ibadah. Dalam tradisi Bugis, bulan ini juga memiliki pedoman yang kuat terkait dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan.

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa jika seseorang mendirikan rumah pada bulan Ramadhan, semua maksud dan tujuan mereka akan tercapai. Kepercayaan ini mencerminkan keyakinan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah dan rahmat. Banyak orang yang memilih untuk memulai pembangunan rumah pada bulan ini, dengan harapan bahwa keberkahan yang ada akan membawa kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Melaksanakan Pernikahan

Namun, melaksanakan pernikahan pada bulan Ramadhan sering kali dianggap kurang menguntungkan. Masyarakat percaya bahwa pernikahan yang dilakukan pada bulan ini dapat menyebabkan pasangan menjadi melarat. Hal ini mungkin disebabkan oleh fokus utama bulan Ramadhan yang adalah ibadah dan puasa, sehingga banyak orang merasa bahwa pernikahan pada bulan ini dapat mengalihkan perhatian dari ibadah yang lebih penting. Oleh karena itu, banyak pasangan yang memilih untuk menunda pernikahan mereka hingga setelah bulan Ramadhan.

10. Bulan Syawal

Bulan Syawal adalah bulan yang datang setelah bulan Ramadhan, dan sering kali dianggap sebagai waktu untuk merayakan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa. Dalam tradisi Bugis, bulan ini juga memiliki pedoman tersendiri terkait dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan.

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa mendirikan rumah pada bulan Syawal dapat menyebabkan lambatnya penyelesaian rumah. Meskipun ada kemungkinan rumah selesai dengan cepat, sering kali terjadi kebakaran yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, banyak orang yang memilih untuk menunda pembangunan rumah hingga bulan yang lebih baik, di mana mereka merasa lebih yakin akan keselamatan dan keberhasilan proyek mereka.

Melaksanakan Pernikahan

Di sisi lain, melaksanakan pernikahan pada bulan Syawal sering kali dianggap kurang menguntungkan. Masyarakat percaya bahwa pernikahan yang dilakukan pada bulan ini dapat menyebabkan sering terjadinya pertengkaran antara pasangan. Kepercayaan ini mungkin berasal dari pandangan bahwa bulan Syawal, meskipun merupakan bulan perayaan, juga membawa tantangan tersendiri dalam hubungan. Banyak pasangan yang memilih untuk menunda pernikahan mereka hingga bulan yang lebih baik, di mana mereka merasa lebih yakin akan keharmonisan dan kebahagiaan dalam hubungan.

11. Bulan Dzulkhaidah

Bulan Dzulkhaidah adalah bulan yang sangat penting dalam kalender Islam, terutama karena merupakan bulan haji. Dalam tradisi Bugis, bulan ini juga memiliki pedoman yang kuat terkait dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan.

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa mendirikan rumah pada bulan Dzulkhaidah akan membawa banyak keberkahan, termasuk memperoleh keturunan dan panjang umur. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan masa depan yang cerah dan keluarga yang bahagia. Banyak orang yang memilih untuk memulai pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan yang ada akan membawa kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Dalam konteks ini, bulan Dzulkhaidah menjadi simbol harapan dan kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Melaksanakan Pernikahan

Namun, jika pernikahan dilaksanakan pada bulan ini, masyarakat percaya bahwa akan sering terjadi perselisihan dalam rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bulan ini membawa keberkahan dalam hal rezeki dan keturunan, hubungan interpersonal dalam rumah tangga perlu diperhatikan dengan baik. Oleh karena itu, banyak pasangan yang memilih untuk menunda pernikahan mereka hingga bulan yang lebih baik, di mana mereka merasa lebih yakin akan keharmonisan dan kebahagiaan dalam hubungan.

 

12. Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Islam dan merupakan bulan yang sangat penting, terutama karena merupakan waktu pelaksanaan ibadah haji. Dalam tradisi Bugis, bulan ini juga memiliki pedoman yang kuat terkait dengan mendirikan rumah dan melaksanakan pernikahan.

Mendirikan Rumah

Masyarakat Bugis percaya bahwa bulan Dzulhijjah adalah waktu yang baik untuk mendirikan rumah. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan keberkahan dan rezeki yang melimpah. Banyak orang yang memilih untuk memulai pembangunan rumah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan yang ada akan membawa kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Dalam konteks ini, bulan Dzulhijjah menjadi simbol harapan dan kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga  Program "Ketua RT Bercerita": Sinergi RW 13 Buntusu dan Telkomsel Indihome Makassar Bangun Masyarakat

Melaksanakan Pernikahan

Selain itu, jika pernikahan dilakukan pada bulan Dzulhijjah, masyarakat percaya bahwa pasangan akan cepat mendapatkan harta. Kepercayaan ini mencerminkan harapan akan masa depan yang cerah dan kehidupan yang sejahtera. Banyak pasangan yang memilih untuk menikah pada bulan ini, dengan keyakinan bahwa keberkahan yang ada akan membawa kebahagiaan dan kelimpahan dalam rumah tangga mereka. Selain itu, bulan Dzulhijjah juga dianggap sebagai waktu yang baik untuk melakukan berbagai kegiatan, di mana masyarakat percaya bahwa setiap aktivitas yang dilakukan akan mendapatkan berkah.

Secara keseluruhan, pedoman setiap bulan dalam tradisi Bugis mencerminkan kearifan lokal yang mengaitkan aktivitas sehari-hari dengan siklus alam dan spiritualitas. Masyarakat Bugis sangat menghargai nilai-nilai ini, dan sering kali menggunakan pedoman ini sebagai acuan dalam merencanakan kegiatan penting dalam hidup mereka. Dengan memahami dan menghormati tradisi ini, diharapkan generasi muda dapat menjaga warisan budaya yang telah ada dan meneruskan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Pedoman ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan praktis, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menghargai waktu dan momen dalam kehidupan. Dalam konteks yang lebih luas, tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan optimis dalam menjalani kehidupan, serta untuk selalu bersyukur atas setiap berkah yang diberikan. Dengan demikian, masyarakat Bugis dapat terus melestarikan warisan budaya mereka dan menjalani kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

Melalui pemahaman yang mendalam tentang setiap bulan dan maknanya, masyarakat Bugis dapat lebih bijaksana dalam mengambil keputusan penting dalam hidup mereka. Dengan cara ini, mereka tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan generasi mendatang.

Semua ini berpulang kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan sumber segala kebijaksanaan dan petunjuk dalam kehidupan. Dalam tradisi masyarakat Bugis, petuah yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu bukanlah sekadar mitos atau cerita belaka, melainkan merupakan hasil dari pengalaman hidup yang telah teruji oleh waktu. Mereka yang hidup di masa lalu telah melalui berbagai peristiwa, baik suka maupun duka, dan dari pengalaman tersebut, mereka menyusun pedoman yang kini kita kenal sebagai primbon lontara bugis.

Lontara adalah catatan yang ditulis di atas daun lontar, yang berisi berbagai ajaran, nasihat, dan petunjuk hidup. Dalam lontara, terdapat banyak informasi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk cara berinteraksi dengan sesama, etika dalam berbisnis, serta waktu yang baik untuk melaksanakan berbagai kegiatan, seperti mendirikan rumah atau melaksanakan pernikahan. Semua ini ditulis dengan tujuan agar generasi berikutnya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang telah dilalui oleh nenek moyang mereka.

Pentingnya primbon lontara bugis sebagai pedoman hidup tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam setiap petuah yang tertulis, terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam dan menghormati tradisi. Misalnya, kepercayaan akan waktu yang baik untuk melakukan suatu kegiatan mencerminkan pemahaman masyarakat Bugis tentang siklus alam dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Dengan mengikuti pedoman ini, diharapkan kita dapat menghindari kesulitan dan meraih keberkahan dalam setiap langkah yang diambil.

Sebagai anak cucu, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan meneruskan warisan budaya ini. Menghargai primbon lontara bugis dan petuah yang terkandung di dalamnya adalah salah satu cara untuk menghormati nenek moyang kita. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran yang ada, kita tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam dunia yang semakin modern dan global, di mana banyak nilai-nilai tradisional mulai tergerus, penting bagi kita untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah terbukti membawa keselamatan dan kesejahteraan.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, kita harus bijak dalam menerapkan petuah-petuah tersebut. Tidak semua ajaran dapat diterapkan secara langsung tanpa mempertimbangkan kondisi zaman dan lingkungan kita saat ini. Kita perlu melakukan penyesuaian dan interpretasi yang relevan agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan dapat diterima oleh generasi muda.

Dalam hal ini, peran pendidikan sangat penting. Kita perlu mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam primbon lontara bugis kepada anak-anak kita, agar mereka memahami pentingnya kearifan lokal dan tradisi yang telah ada. Dengan cara ini, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga membekali generasi mendatang dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan hidup.

Akhirnya, semua ini berpulang kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan petunjuk dan bimbingan dalam setiap langkah kita. Dengan berserah diri kepada-Nya dan mengikuti petuah yang telah diwariskan, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, selaras dengan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh nenek moyang kita. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari perjalanan hidup ini dan menjadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran berharga untuk masa depan yang lebih baik. (MITOS/awing/@)

( Bersambung )

Dibaca Oleh: 1,114

Berita Lainnya

Posko Siaga
News & Advertorial

Membangun Sinergi Warga Melalui 9 Indikator Partisipasi Aktif RT: Rapat Koordinasi Posko Siaga RW 13 Kelurahan Buntusu

by Ali Mitos
Januari 14, 2026

MITOS | Makassar  -- Pada Selasa, 13 Januari 2026, Posko Siaga Rukun Warga (RW) 13 Kelurahan Buntusu, kawasan Bumi Tamalanrea...

Read more
Peduli dan Berbagi
News & Advertorial

AMPI Makassar Peduli dan Berbagi: Musda Sebagai Momentum Kepedulian Sosial

by Ali Mitos
Januari 10, 2026

MITOS | Makassar  –  Dalam rangka menyambut pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) AMPI Kota Makassar, panitia Musda bersama jajaran pengurus DPD...

Read more
Serah Terima
News & Advertorial

Prof. H. Muzakkir Tekankan PR Infrastruktur dan Pembinaan Generasi Muda pada Acara Serah Terima Se ORW 013 Buntusu

by Ali Mitos
Januari 1, 2026

MITOS | Makassar  –  Tokoh masyarakat Prof. Doktor H. Muzakkir, M.Kes menyoroti sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diselesaikan...

Read more

Discussion about this post

No Result
View All Result

Kategori

Mitos (22) Mitos Hiburan & Gaya Hidup (42) Mitos Pendidikan dan Teknologi (84) Mitos Reportase Cilik (52) News & Advertorial (186)
footer-01

PT. Mitos Tujua Utama
Jl. Andi Djemma 7 No.12
Rappocini, Makassar, Indonesia
Email : majalahmitos@gmail.com
Telp/WA : 085240876013

2024 © MAJALAHMITOS.COM | Dibuat Oleh mike'S

No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK