MITOS | Makassar — Kisah Nu’aiman bin Amr adalah salah satu cerita yang sangat menarik dalam sejarah Islam. Ia adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sifat humoris dan tingkah lakunya yang kadang dianggap aneh. Namun, di balik semua itu, Nu’aiman memiliki kedalaman iman yang luar biasa.
Kisah Nu’aiman mengajarkan banyak hal, terutama tentang bagaimana keimanan seseorang tidak selalu terlihat dari tampilan luarnya atau dengan kata lain, don’t judge the book by the cover.
Siapa Nu’aiman
Nu’aiman bin Amr adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Khazraj. Ia dikenal sebagai sosok yang humoris dan sering kali membuat orang lain tertawa dengan leluconnya.
Meskipun ia memiliki sifat yang ceria, Nu’aiman juga dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai Nabi dan memiliki kedekatan yang khusus dengan Allah. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya lucu, tetapi juga memiliki hati yang tulus dan penuh kasih.
Salah satu ciri khas Nu’aiman adalah kemampuannya untuk melihat sisi lucu dari berbagai situasi. Ia sering kali terlibat dalam berbagai peristiwa yang menunjukkan sifat humorisnya, tetapi di balik semua itu, ia memiliki kedalaman spiritual yang tidak bisa diabaikan.
Kisah Nu’aiman adalah salah satu pelajaran pertama yang bisa diambil bahwa seseorang bisa memiliki sifat yang ceria dan humoris, tetapi tetap memiliki iman yang kuat.
Kisah-Kisah Menarik tentang Nu’aiman
Salah satu Kisah Nu’aiman yang terkenal adalah ketika ia mencuri unta milik seorang sahabat untuk dijadikan hadiah bagi Nabi Muhammad SAW. Dalam kisah ini, Nu’aiman ingin memberikan sesuatu yang istimewa kepada Nabi, tetapi ia melakukannya dengan cara yang tidak biasa.
Ketika unta tersebut dicuri, pemiliknya merasa marah dan melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi. Namun, ketika Nabi mengetahui bahwa Nu’aiman yang melakukannya, beliau hanya tertawa dan tidak marah. Ini menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW memahami karakter Nu’aiman dan tidak menghakimi berdasarkan tindakan yang tampak.
Kisah Nu’aiman lain yang menarik adalah ketika Nu’aiman berusaha untuk membantu sahabatnya, Abu Bakar. Suatu ketika, Abu Bakar sedang dalam perjalanan dan merasa lapar. Nu’aiman, yang ingin membantu, pergi mencari makanan. Namun, alih-alih membawa makanan yang biasa, ia justru membawa sepotong daging yang sudah busuk.
Ketika Abu Bakar melihatnya, ia merasa bingung dan bertanya, “Apa ini, Nu’aiman?” Nu’aiman menjawab dengan santai, “Ini adalah makanan terbaik yang bisa saya temukan!” Meskipun tindakan Nu’aiman tampak konyol, niat baiknya untuk membantu sahabatnya tetap terlihat.
Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengisahkan tentang Nu’aiman telah dikonfirmasi dalam kitab Ihya Ulumuddin dan dibenarkan oleh banyak perawi hadis.
Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube @MuhammadNurBinYusuf, Gus Baha menceritakan bagaimana Nu’aiman kerap membuat Rasulullah SAW tertawa dengan tingkahnya yang jenaka. Rasulullah SAW bahkan bersabda, “Aku itu belum pernah dibuat gembira orang seperti Nu’aiman membuatku gembira.”
Meskipun memiliki kebiasaan buruk, Nu’aiman tetap menerima hukuman atas tindakannya. Rasulullah SAW pernah menghukumnya dengan cambukan sebanyak 40 hingga 60 kali. Hukuman ini tidak membuat Nabi SAW membencinya, justru tetap menganggapnya sebagai sahabat yang setia.
Salah satu kisah unik Kisah Nu’aiman adalah ketika ia memesan makanan untuk Rasulullah SAW dari seorang pedagang. Setelah makanan itu diantar dan mereka selesai makan bersama, Nu’aiman justru meminta Nabi SAW untuk membayarnya. Rasulullah SAW pun tertawa dan membayar makanan itu tanpa marah sedikit pun.
Merujuk buku Yang Jenaka dari M Quraish Shihab (Quraish Shihab, 2014) dan buku Dari Canda Nabi & Sufi Sampai Kelucuan Kita (A Mustofa Bisri, 2016).
Dikisahkan suatu ketika Nu’aiman ingin menghadiahi Rasulullah seguci madu. Nu’aiman lantas mendatangi penjual madu dan menyuruhnya untuk menghantarkan madunya itu kepada Rasulullah.
“Nanti kamu minta juga uang harganya,” kata Nu’aiman kepada penjual madu itu.
Penjual madu gembira karena barang dagangannya laku. Ia akhirnya menuruti apa yang diucapkan Nu’aiman. Ia datang menghadap Rasulullah dengan membawa seguci madu, hadiah dari Nu’aiman. Ketika itu, Rasulullah senang karena mendapatkan hadiah madu dari sahabatnya itu.
Namun keriangan Rasulullah itu langsung berubah menjadi sebuah ‘keterjekejutan’ ketika penjual madu juga menyodorkan tagihan. “Ini madunya Rasulullah. Harganya sekian,” kata penjual madu.
Rasulullah langsung sadar memang seperti itulah kelakukan Nu’aiman. Memberi hadiah, tapi beliau malah yang harus membayarnya. Mau tidak mau, beliau akhirnya memberikan sejumlah uang kepada penjual madu itu. Jadilah Rasulullah mendapatkan hadiah madu, sekaligus tagihan harganya.
Beberapa saat setelah kejadian itu, Rasulullah memanggil Nu’aiman. Ia bertanya kepadanya sahabatnya itu mengapa melakukan hal itu.
“Saya ingin berbuat baik kepada Anda ya Rasulullah, tapi saya tidak punya apa-apa,” jawab Nu’aiman. Rasulullah lalu tersenyum setelah mendengar jawaban sahabatnya itu.
Demikianlah Rasulullah. Beliau biasa saja ketika menjadi sasaran kejahilan Nu’aiman. Tidak tersinggung, apalagi marah.
Mengutip hasanjufri.com, suatu saat, Rasulullah sedang sedih karena ditinggalkan oleh dua orang yang sangat dicintainya. Nu’aiman yang melihat keadaan Rasulullah yang sedih, dengan inisiatif mencoba membuatnya tersenyum. Ia kemudian pergi menemui Zaed bin Tsabit, seorang penjual kambing.
Nu’aiman memesan dua ekor kambing untuk diberikan kepada Rasulullah dan meminta Zaed mengantarkannya. Ketika Zaed bertanya tentang pembayarannya, Nu’aiman menjawab bahwa Rasulullah yang akan membayar.
Tanpa ragu, Zaed berangkat mengantarkan kambing-kambing tersebut kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa itu adalah hadiah dari Nu’aiman. Rasulullah pun tersenyum mendengar kabar tersebut dan mengucapkan terima kasih. Namun, Zaed masih berdiri di hadapan Rasulullah.
Kemudian Rasulullah bertanya mengapa Zaed masih berdiri di situ, lalu dengan malu-malu Zaed menjawab bahwa Nu’aiman meminta Rasulullah untuk membayar.
Dalam keadaan sedih, Rasulullah tersenyum untuk kesekian kalinya, terutama setelah melihat Nu’aiman yang mengintip dari balik tembok.
Pada suatu waktu, saat Nu’aiman meninggal dunia, Rasulullah sendiri yang mengkafani dan menurunkannya ke dalam liang lahat. Setelah pemakaman selesai dan semua orang yang memberikan takziah bubar, Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabat yang lain untuk pulang.
Namun, Rasulullah tetap tinggal di atas kubur Nu’aiman karena ingin menyaksikan saat malaikat Munkar dan Nakir menanyakan Nuaiman. Ketika malaikat Munkar dan Nakir bertanya, “Siapa Tuhanmu?”, Nu’aiman menjawab, “Allah adalah Tuhan ku”.
Kemudian, Nu’aiman ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, “Siapa Nabimu?” Namun, Nu’aiman meminta pertanyaan itu diulang, karena malaikat tersebut mengucapkannya dengan suara yang cukup keras. Mendapat pertanyaan yang keras dari malaikat, Nuaiman menjawab, “Jangan terlalu keras bertanya siapa Nabi saya, karena beliau sedang mengintip dari atas,” ujar Nu’aiman.
Melalui jawabannya yang lucu itu, Rasulullah tetap bisa tersenyum saat Nu’aiman menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Inilah kisah jenaka Nu’aiman yang sering membuat Rasulullah tersenyum.
Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menegur sahabat-sahabatnya yang mencela Nu’aiman. “Jangan suka menghujat, dia cinta Allah dan Rasul-Nya,” ujar Nabi SAW.
Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan seseorang tidak serta-merta menghapus kecintaan dan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Berdasarkan kisah-kisah Nu’aiman di atas, dapat terlihat sisi kepribadian santai yang dimiliki Rasulullah SAW. Sebab, tidak selamanya kehidupan beliau berjalan kaku dan formal. Ada kalanya, kehidupan Rasulullah diwarnai dengan momen-momen bahagia bersama dengan para sahabatnya.
Kisah Nu’aiman ini juga menunjukkan bahwa Nu’aiman adalah sosok yang tidak hanya lucu, tetapi juga memiliki niat baik di balik setiap tindakannya. Meskipun ia sering kali terlibat dalam situasi yang tampak aneh, ia tetap memiliki kedekatan dengan Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah pelajaran penting bahwa keimanan seseorang tidak selalu terlihat dari tampilan luarnya.
Pelajaran dari Kisah Nu’aiman
1. Keimanan Tidak Selalu Terlihat dari Penampilan
Salah satu pelajaran utama yang bisa diambil dari kisah Nu’aiman adalah bahwa keimanan seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan atau perilaku luar. Seseorang yang tampak tidak baik di mata manusia bisa jadi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Ini mengingatkan untuk tidak cepat menghakimi orang lain hanya berdasarkan penampilan atau tindakan mereka, karena hanya Allah yang mengetahui isi hati setiap individu.
2. Humor dan Keceriaan dalam Kehidupan Beragama
Nu’aiman mengajarkan bahwa humor dan keceriaan juga memiliki tempat dalam kehidupan beragama. Banyak orang berpikir bahwa beragama harus selalu serius dan kaku, tetapi Nu’aiman menunjukkan bahwa kita bisa tetap beriman sambil memiliki sikap yang ceria. Ini penting untuk menciptakan suasana yang positif dalam komunitas, di mana orang merasa nyaman untuk berbagi dan berinteraksi.
3. Niat Baik di Balik Tindakan yang Konyol
Salah satu aspek yang paling menarik dari kisah Nu’aiman adalah bagaimana niat baik sering kali tersembunyi di balik tindakan yang tampak konyol atau tidak biasa. Dalam banyak situasi melihat seseorang melakukan sesuatu yang aneh atau tidak sesuai dengan norma, hingga cenderung untuk menghakimi mereka tanpa memahami konteks atau niat di balik tindakan tersebut. Kisah Nu’aiman mengingatkan bahwa niat baik bisa muncul dalam berbagai bentuk, bahkan dalam tindakan yang tampaknya tidak masuk akal._@_










Discussion about this post