Minggu, Februari 1, 2026
Majalah Mitos
No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
Majalah Mitos
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK
No Result
View All Result
Majalah Mitos
No Result
View All Result
Home Mitos

Dikutuk jadi Batu

Satu Kampung di Bone Ingkar Janji

Ali Mitos by Ali Mitos
April 2, 2025
in Mitos
Dikutuk jad Betu
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

MITOS | Bone — Pada awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan, khususnya di kawasan Kabupaten Bone, muncul sosok legendaris bernama Tomanurung yang mengawali satu kampung di Bone ingkar janji dan menjadi cikal bakal dikutuk jadi batu.

Tomanurung bukan sekadar tokoh mitologis; dia dianggap sebagai pembawa peradaban dan penanda awal kehidupan masyarakat yang beradab dan akhirnya dikutuk jadi batu.

Dari kehadirannya, berdirilah sebuah kerajaan yang sangat kaya, yang dikenal dengan nama Mampu. Kerajaan ini menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan, di mana rakyatnya hidup dalam keadaan serba berkecukupan.

Kerajaan Mampu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, La Oddang Patara, dan didampingi oleh permaisuri yang cantik, I La Wallellu.

Permaisuri ini dikenal dengan gelar Puang Mallosu-losuE Ri Mampu, yang berarti “Ratu yang telanjang dari Mampu.” Gelar ini mencerminkan kebebasan dan keunikan budaya yang ada di kerajaan tersebut.

Di bawah kepemimpinankepemimpinan mereka, Mampu berkembang menjadi negara agraris dan maritim yang terdiri dari tujuh distrik, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala distrik atau dusun.

La Oddang Patara, sebagai generasi kedua dari Tomanurungnge ri Matajang, memiliki visi yang jelas untuk memajukan kerajaannya.

Dia dibantu oleh seorang penasihat kerajaan bernama La Cagala, yang sangat pandai dalam mengatur pemerintahan dan juga merupakan pemimpin keagamaan di Mampu. La Cagala dikenal sebagai sosok yang bijak dan berpengalaman, sehingga banyak rakyat yang menghormatinya.

Kehidupan masyarakat Mampu sangat beragam. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai petani dan nelayan, sementara yang lainnya adalah pengrajin yang terampil.

Keberagaman profesi ini membuat kerajaan Mampu menjadi sangat kaya. Apa pun yang mereka tanam pasti tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Hasil laut, seperti ikan dan garam, seakan datang menghampiri mereka tanpa perlu susah payah mencarinya.

Mereka juga dapat membuat kain tenun sendiri tanpa bergantung pada negeri lain, yang menunjukkan kemandirian dan kreativitas masyarakat Mampu.

Namun, karunia yang diberikan oleh Tuhan yang melimpah ini membuat mereka lupa diri. Rasa syukur yang seharusnya mereka miliki perlahan-lahan tergantikan oleh kesombongan dan ketakaburan.

Baca Juga  Eremerasa Muncul Karena Sosok Gaib ini

Harta yang melimpah membuat mereka terjebak dalam kesenangan, sehingga berbagai bentuk kemaksiatan merajalela di seluruh penjuru negeri. Mereka mulai melupakan nilai-nilai moral dan spiritual yang seharusnya dijunjung tinggi.

Kekayaan yang melimpah mengaburkan batasan antara raja dan rakyat. Tak ada lagi yang jelas mengenai siapa yang melayani dan siapa yang dilayani. Hidup mereka seperti di surga, karena semua yang mereka butuhkan ada di sekitar mereka tanpa perlu susah payah mencarinya.

Raja dan Ratu Mampu pun hidup dalam kesenangan, bahkan Ratu Mampu tidak pernah mengenakan pakaian sepanjang hidupnya. Dia membiarkan tubuhnya bertelanjang sambil berbaring di peraduan, menikmati kesenangan yang ada di sekelilingnya tanpa menyadari potensi untuk dikutuk jadi batu.

Ritual penyembahan kepada Tuhan yang biasa mereka lakukan sebelumnya pun hilang. Mereka beranggapan bahwa keberhasilan mereka semata-mata hasil kerja keras mereka sendiri, tanpa campur tangan Tuhan.

Akibatnya, Tuhan menguji mereka dengan mengirimkan seekor anjing yang bisa berbicara seperti manusia. Anjing ini menjadi simbol dari peringatan yang akan datang, sebuah ujian bskal dikutuk jadi batu bagi mereka yang telah melupakan asal-usul dan nilai-nilai kehidupan.

Raja La Oddang Patara memiliki seorang putri yang sangat gemar menenun kain sutera. Kecintaannya pada seni tenun membuatnya menghabiskan waktu berbulan-bulan di atas rumah, menciptakan karya-karya indah.

Suatu ketika, alat tenun putri tersebut, yang berupa teropong, terjatuh ke tanah. Namun, dia merasa malas untuk turun mengambilnya. Dalam kebosanan, dia berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang memperdulikannya.

“Siapa yang ingin mengambilkan teropongku?” teriak sang putri. Namun, teriakannya hanya menguap di udara, tak ada satu pun yang mendengarnya.

Dalam keputusasaannya, dia berjanji dalam hati, “Barang siapa yang menolongku mengambilkan alat teropongku di kolong rumah, maka apabila dia lelaki, akan kujadikan suamiku. Dan apabila dia perempuan, akan kujadikan saudaraku.” Janji sang putri ternyata didengar oleh seekor anjing jantan yang kebetulan lewat.

Baca Juga  Ciri-ciri kemunculan "Puang Tanre Wara" Penguasa Puncak Bukit Mampu

Betapa terkejutnya sang putri ketika melihat seekor anjing jantan berdiri di hadapannya sambil menggigit alat tenun yang terjatuh. “Bagaimana aku bisa memenuhi janjiku, sementara engkau hanya seekor anjing?” ujarnya dengan nada skeptis.

Tiba-tiba, anjing itu dapat berbicara seperti manusia dan segera menagih janji sang putri. “Walaupun aku hanya seekor anjing, janjimu tadi berlaku untuk semua makhluk yang berkelamin laki-laki,” kata anjing itu dengan tegas.

Sang putri terkejut mendengar anjing itu berbicara. “Tapi kamu hanya seekor anjing, aku tidak mau menikah denganmu!” bentaknya dengan marah. Karena sang putri berkeras untuk tidak memenuhi janjinya, anjing itu mengeluarkan sumpah.

“Wahai sang putri! Karena kamu telah ingkar janji dan semua orang di negerimu sering mengabaikan janji serta sering menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, maka melalui telunjuk kalian, aku kutuk kamu semua menjadi batu!” Suara gemuruh menyambut kutukan itu, seakan-akan mengabulkan kutukan tersebut. Seketika itu pula, sang anjing lenyap dari pandangan sang putri.

Awalnya, tidak ada keanehan yang terjadi pada diri sang putri. Namun, ketika iringan pengantin lewat di hadapannya, dia segera menoleh dan memperhatikan rombongan tersebut.

Betapa terkejutnya sang putri, karena dia melihat sebongkah batu hitam menempel di dahi semua orang yang ikut rombongan. Beberapa kali dia mengusap kedua bola matanya, seakan tak percaya, tetapi batu yang menempel pada dahi orang-orang tersebut tetap ada.

Karena tak sabar, sang putripun segera menegur mereka. “Hey… orang-orang, kenapa ada batu yang menempel pada dahi kalian?” tegur sang putri sambil menunjuk ke arah dahi salah seorang anggota rombongan. Terkejutlah sang putri melihat kejadian sesaat setelah dia menunjuk kepada orang itu, karena tiba-tiba sekujur tubuh orang itu menjadi batu.

Tersadarlah dia bahwa kutukan sang anjing telah berlaku. Gegerlah iringan pengantin tersebut, merekapun saling tunjuk, dan tak terkecuali bagi sang putri. “Tuan putri, di dahi andapun ada batu,” tunjuk salah seorang di antara mereka. Akhirnya, sang putripun menjadi batu.

Baca Juga  Bertemu Setan Longga'

Keadaan di negeri Mampu menjadi gempar. Seluruh penduduk saling menunjuk karena melihat batu di dahi orang lain. Semua yang kena tunjuk akhirnya menjadi batu, sehingga seluruh negeri berubah menjadi batu.

Peristiwa tunjuk-menunjuk di negeri Mampu sampai sekarang masih dikenal dengan istilah Jello-jello to Mampu (tunjuk-menunjuk ala orang Mampu) apabila ada dua orang yang berselisih dan saling menunjuk kesalahan masing-masing.

Setelah seluruh negeri menjadi batu, bencana alam melanda selama tujuh hari berturut-turut, menenggelamkan negeri mereka ke dalam perut bumi.

Namun, Tuhan memberikan pelajaran kepada manusia dengan ditemukannya negeri itu dalam bentuk gua, yang dikenal sebagai Gua Mampu. Gua ini terletak di desa Cabbengnge Kecamatan Dua Boccoe, sekitar 30 km dari kota Watampone.

Menurut pengelola Gua Mampu, M. Rijal, gua ini termasuk gua terbesar kedua setelah gua yang ada di Swiss. Gua ini menyimpan bukti bahwa di sana pernah ada kampung, seperti yang ditemukan oleh mahasiswa UGM Yogyakarta pada tahun 2004, yang menemukan piring dan mangkuk dari tanah liat.

Rijal menjelaskan bahwa kerajaan Mampu kaya dengan kapal laut yang dikutuk jadi batu dan hamparan sawah yang juga telah dikutuk jadi batu. Jika keempat dusun yang masih tersembunyi akhirnya ditemukan, kemungkinan Gua Mampu akan menjadi gua terbesar di dunia.

Kerajaan Mampu dan kutukan (Dikutuk jadi Batu) yang menimpanya menjadi pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya. Ini adalah pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai moral, bersyukur atas karunia yang diberikan, dan tidak melupakan asal-usul serta tanggung jawab kita sebagai manusia.

Sejarah Mampu, dengan segala keindahan dan kehampaan yang dialaminya, tetap hidup dalam ingatan masyarakat, menjadi bagian dari warisan budaya yang tak ternilai._MITOS/@ly/Awing_

Dibaca Oleh: 290

Berita Lainnya

Ilmu Hitam
Mitos

Menguak Misteri di Balik “Doti: Tumbal Ilmu Hitam”

by Ali Mitos
Juli 23, 2025

MITOS | Makassar  --  Film horor Indonesia kembali hadir dengan menawarkan nuansa mistik yang menegangkan: "Doti: Tumbal Ilmu Hitam". Diproduseri...

Read more
Karaeng Ta Data 
Mitos

Karaeng Ta Data 

by Ali Mitos
Mei 8, 2025

MITOS | Makassar  ---  Karaeng Ta Data atau Abubakar Karaeng Ta Data Bin Amas Madina Batara Gowa raja Gowa yang...

Read more
Menghindari Gangguan Genderuwo
Mitos

Menghindari Gangguan Genderuwo

by Ali Mitos
Mei 8, 2025

MITOS | Makassar  ---  Cara Menghindari Gangguan Genderuwo. Ada mitos menarik yang mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan tidur dalam keadaan...

Read more

Discussion about this post

No Result
View All Result

Kategori

Mitos (22) Mitos Hiburan & Gaya Hidup (42) Mitos Pendidikan dan Teknologi (84) Mitos Reportase Cilik (52) News & Advertorial (186)
footer-01

PT. Mitos Tujua Utama
Jl. Andi Djemma 7 No.12
Rappocini, Makassar, Indonesia
Email : majalahmitos@gmail.com
Telp/WA : 085240876013

2024 © MAJALAHMITOS.COM | Dibuat Oleh mike'S

No Result
View All Result
  • Home
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI
  • MITRA
  • PERIKLANAN
  • KIRIM BERITA
  • KONTAK