MITOS | Bone — Kemunculan Puang Tanre Wara biasanya ditandai dengan aroma harum mewangi di seputaran bukit Mampu. Peristiwa ini sudah dialami oleh wartawan MITOS.

Digelari Puang Tanre Wara, karena awal kemunculannya di atas bukit ditandai dengan api yang berkobar di atas bukit Mampu beberapa abad yang lampau.
Besarnya kobaran api itu dapat menerangi desa-desa di sekitar bukit Mampu. Tapi anehnya kobaran api itu tidak membakar pepohonan di sekitarnya, jadi hanya merupakan kobaran api yang berwujud cahaya saja.
Seperti penuturan Hj. Andi Marauleng (67) kepada Wartawan MITOS beberapa waktu lalu.
Pada zaman kerajaan, kemunculan Puang Tanre Wara biasanya melalui media orang yang kesurupan, ditandai dengan ritual acara Mappadendang (tari-tarian yang diiringi oleh gendang) dan biasanya disiapkan bara api yang telah disulut api hingga berkobar-kobar.
Kemudian orang yang telah dikuasai oleh Puang Tanre Wara akan masuk kedalam api. Seperti pengalaman salah seorang Wartawan MITOS yang menyaksikan secara langsung pengalaman seperti itu.
Ciri-ciri kemunculan Puang Tanre Wara merupakan fenomena yang kaya akan makna dan tradisi, yang telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat sekitar bukit Mampu. Selain aroma harum yang menyebar di seputaran bukit, ada beberapa ciri khas lain yang sering kali menyertai kemunculan sosok mistis ini.
Pertama, kehadiran cahaya yang memancar dari arah bukit Mampu menjadi salah satu tanda yang paling mencolok. Cahaya ini tidak hanya sekadar sinar biasa, melainkan memiliki nuansa keemasan yang memikat dan menenangkan. Banyak saksi yang melaporkan bahwa cahaya ini tampak bergetar, seolah-olah memiliki kehidupan sendiri, dan sering kali muncul saat malam hari, menambah kesan magis pada suasana.
Kedua, suara-suara lembut yang terdengar dari arah bukit juga menjadi ciri khas kemunculan Puang Tanre Wara. Suara ini sering kali diidentifikasi sebagai alunan musik tradisional yang mengundang rasa damai dan ketenangan. Masyarakat percaya bahwa suara ini adalah undangan dari Puang Tanre Wara untuk mendekat dan merasakan kehadirannya.
Ketiga, saat ritual Mappadendang berlangsung, suasana menjadi semakin sakral. Para penari yang terlibat dalam ritual ini biasanya mengenakan pakaian adat yang berwarna cerah, lengkap dengan aksesori tradisional. Gerakan tari yang anggun dan penuh makna ini diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada Puang Tanre Wara, dan setiap gerakan memiliki simbolisme tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan dan alam.
Keempat, fenomena alam yang terjadi bersamaan dengan kemunculan Puang Tanre Wara juga menjadi perhatian. Beberapa orang melaporkan bahwa saat kemunculan terjadi, angin sepoi-sepoi berhembus, dan langit tampak lebih cerah meskipun malam hari. Hal ini menambah kesan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur dan menyertai momen tersebut.
Terakhir, pengalaman pribadi yang dialami oleh mereka yang pernah berinteraksi dengan Puang Tanre Wara sering kali menjadi cerita yang menarik. Banyak yang mengaku merasakan kehadiran yang hangat dan penuh kasih, seolah-olah Puang Tanre Wara ingin menyampaikan pesan atau memberikan petunjuk kepada mereka. Pengalaman ini sering kali diabadikan dalam bentuk cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, menambah kekayaan budaya dan spiritual masyarakat sekitar.
Dengan demikian, kemunculan Puang Tanre Wara bukan hanya sekadar fenomena mistis, tetapi juga merupakan perwujudan dari tradisi, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar bukit Mampu._MITOS/@li/awing_










Discussion about this post