MITOS | Wisata Alam Gua Mampu didominasi oleh wisata religi yang berpusat di atas puncak bukit.
Para pengunjung yang datang bukan hanya dari sekitar Kabupaten Bone, tetapi juga dari daerah lain seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, bahkan dari negeri jiran Malaysia.
Napak tilas terletak di puncak bukit Mampu, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Oleh masyarakat bugis karib dengan sebutan makam “Penguasa Puncak Bukit” (Puangnge Coppo Bulu).
Penguasa puncak bukit dikenal dengan nama “Puang Tanre Wara” (Raja memiliki api yang berkobar).
Digelari Puang Tanre Wara, sebab awal kemunculannya ditandai dengan api yang berkobar di atas bukit Mampu beberapa abad lampau.
Tampak kobaran api menerangi desa-desa di sekitar bukit Mampu. Anehnya, kobaran api tidak membakar pepohonan di sekitarnya, sehingga merupakan kobaran api berwujud cahaya saja.
Berdasarkan informasi, ciri-ciri kemunculan Puang Tanre Wara, biasanya ditandai dengan aroma harum mewangi di seputaran bukit. Hal itupun dialami wartawan MITOS ketika menyusuri jalan menanjak saat berkunjung ke makam yang terletak diatas bukit.
Berdasarkan pantauan tim gaib MITOS, Puang Tanre Wara merupakan salah satu mahluk gaib dari kalangan bangsawan yang mendalami agama Islam (ulama). Jadi dia merupakan pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama bagi kaumnya, serta diberikan keistimewaan oleh Tuhan berupa kesaktian dapat menaklukkan api, hingga saat ini masih hidup.
Sementara pendapat sebagian orang menganggap dia sebagai manusia sakti yang pernah hidup dan dikuburkan di puncak bukit. Ini dapat dilihat dari makam (tempat) yang berbentuk kuburan.
Di tempat itu dulunya hanya bertanda dengan sebongkah batu, seiring waktu mengalami perubahan yang entah siapa merubahnya menjadi berbentuk seperti itu.
Hasil komunikasi diketahui Puang Tanre Wara sangat membenci segala bentuk kemusyrikan. Jadi, orang berziarah dengan niat melenceng pasti tidak ditemuinya.
Ada pertanyaan yang timbul “Jadi siapa yang datang menemui para peziarah dengan niat meminta-minta itu ?” Jawabannya pasti Iblis atau setan yang selalu datang menggelincirkan niat manusia ke dalam jurang dosa.
Biasanya mereka datang apabila nazar atau hajat mereka telah terkabul. Contohnya : Apabila seseorang ingin pergi merantau mereka berhajat, apabila berhasil di tanah rantau, akan kembali ke bukit untuk mempercantik makam.
Setelah apa yang dihajatkan benar terlaksana, mereka segera kembali, sebab jika tidak dilakukan, mereka biasanya akan mendapatkan bala-bencana atau penyakit aneh. Itu menurut kepercayaan salah seorang peziarah yang diwawancarai Wartawan MITOS.
Bukankah Tuhan sudah memberikan peringatan kepada kita dalam Al-Quran bahwa : Tidak kuciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaKu.
Sekedar informasi bagi pembaca, sewaktu berita ini dibuat, penulis merasakan hawa panas menyelimuti tubuh, sementara cuaca sedang hujan deras. Seakan-akan penulis diawasi oleh sesuatu tidak dapat terlihat oleh mata. Wallahu alam. (@li/Awing)










Discussion about this post