MITOS | Maros — Bunga Rampai Pendidikan Inklusif Telah Mulai Bermekaran di Tanah Maros. Kali ini Bimtek Pendidikan Inklusi digelar di SMPN 18 Lau menyambut pelangi keberagaman di Sekolah.
Di dalam gedung sekolah, suasana berbeda terasa. Bukan hiruk pikuk siswa, melainkan derap langkah para guru yang khidmat memasuki ruangan.
Hari ini, Rabu, 28 Mei 2025, mereka berkumpul untuk sebuah Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus. Suasana penuh harap terpancar dari wajah-wajah mereka.
Fauziah Takdir, S.Sos.,M.Si, atau yang akrab disapa Uci, Kepala Seksi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan jenjang SMP, berdiri di depan podium.
Matanya berbinar, mencerminkan semangatnya untuk mewujudkan pendidikan inklusif di Kabupaten Maros. Ia memulai presentasinya dengan lembut, suaranya mengalun seperti lantunan syair.
“Saudaraku, para guru yang saya hormati,” katanya, “kita berkumpul di sini bukan hanya untuk mengikuti pelatihan, tetapi untuk menanamkan benih perubahan. Kita akan belajar bagaimana menumbuhkan taman pendidikan yang ramah bagi semua tunas, tanpa memandang perbedaan.”
Uci menjelaskan dengan detail pentingnya pendidikan inklusif. Ia menggambarkan bagaimana setiap anak, dengan segala keunikan dan kebutuhannya, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Ia menekankan pentingnya memahami kebutuhan siswa berkebutuhan khusus, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah, serta menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai.
Menyulam Harmoni
Selama tiga hari, para guru mengikuti berbagai sesi pelatihan. Mereka belajar tentang berbagai jenis kebutuhan khusus, teknik modifikasi pembelajaran, dan cara menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Para narasumber, pakar pendidikan inklusif dari berbagai latar belakang, membagi pengalaman dan pengetahuan mereka dengan antusias.
Di sela-sela sesi pelatihan, terjalin diskusi hangat di antara para guru. Mereka berbagi pengalaman, kesulitan, dan ide-ide inovatif. Ada Amir, guru matematika yang bersemangat berbagi strategi mengajar siswa autis.
Ani, guru bahasa Indonesia yang sukses mengadaptasi metode pembelajaran untuk siswa tunarungu dan masih banyak lagi. Mereka saling belajar, saling mendukung, menyulam harmoni dalam perbedaan.
Menuju Harapan Baru
Bimtek di SMPN 18 Lau telah berakhir. Para guru kembali ke sekolah masing-masing dengan hati penuh semangat dan bekal pengetahuan baru.
Mereka membawa pulang bukan hanya sertifikat, tetapi juga semangat untuk mewujudkan pendidikan inklusif di Kabupaten Maros.
Uci tersenyum puas. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang, tetapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, mereka akan mencapai harapan baru pendidikan yang setara dan berkualitas bagi semua anak di Kabupaten Maros.
Sebelumnya, Bimtek serupa untuk guru SD yang telah dilaksanakan di SDN 103 Inpres Hasanuddin, menjadi bukti komitmen yang berkelanjutan. Bunga rampai pendidikan inklusif telah mulai bermekaran di tanah Maros.










Discussion about this post