MITOS | Makassar — Kue Asida bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol keramahan dan kekayaan budaya Maluku.
Di Maluku, Kue Asida telah bertransformasi menjadi bagian integral dari tradisi kuliner lokal, tak terpisahkan dari berbagai perayaan dan acara adat.
Kue Asida, sebuah hidangan penutup manis khas Maluku, memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.
Teksturnya yang lembut, kenyal, dan cita rasa manisnya yang khas menjadikannya sajian yang sempurna untuk berbuka puasa, sekaligus mewakili kekayaan kuliner Nusantara.
Lebih dari sekadar cemilan, menyimpan sejarah dan cerita yang menarik.
Perjalanan Rasa dari Timur Tengah
Asal-usul Kue Asida diperkirakan berasal dari Timur Tengah, dibawa oleh para pedagang Arab yang singgah di Maluku. Perjalanan rempah-rempah dan budaya ini meninggalkan jejak yang lezat dalam bentuk kue manis yang unik.
Kemiripannya dengan dodol, makanan penutup Indonesia lainnya yang juga memiliki tekstur lengket dan manis, menunjukkan adanya pertukaran dan adaptasi budaya dalam perkembangan kuliner Nusantara.
Rahasia Kelezatan: Sederhana Namun Istimewa
Bahan-bahan Kue Asida terbilang sederhana: tepung sagu sebagai dasar, gula merah yang memberikan rasa manis alami, dan air sebagai perekat.
Proses pembuatannya pun terkesan sederhana, namun membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
Pengadukan yang konsisten dan tepat waktu menentukan tekstur akhir kue. Beberapa resep menambahkan rempah-rempah seperti kayu manis dan kapulaga, serta santan untuk meningkatkan aroma dan rasa, menciptakan variasi yang kaya.
Penggunaan gula merah memberikan cita rasa manis yang khas, berbeda dengan gula pasir, dan memberikan warna cokelat kehitaman yang menarik.
Tepung sagu sendiri memberikan tekstur yang unik, kenyal dan sedikit lengket, namun tetap lembut di mulut.
Sajian Sempurna: Nikmat Hangat Maupun Dingin
Kue Asida memiliki rasa manis yang khas, dengan tekstur lembut dan sedikit lengket. Manisnya gula merah berpadu sempurna dengan tekstur kenyal dari tepung sagu.
Kue ini dapat disajikan hangat maupun dingin, tergantung selera. Sajian hangat akan memberikan sensasi kehangatan yang menenangkan, sementara sajian dingin memberikan kesegaran yang menyegarkan.
Kue ini seringkali disandingkan dengan minuman seperti kopi atau teh, menciptakan kombinasi rasa yang sempurna. Aroma rempah-rempah yang mungkin ditambahkan semakin menambah kekayaan sensori saat menikmati kue ini.
Warisan Kuliner yang Patut Dilestarikan
Kue Asida adalah bukti nyata kekayaan dan keunikan kuliner Indonesia. Sejarahnya yang kaya, proses pembuatannya yang sederhana namun penuh makna, dan cita rasanya yang lezat menjadikan kue ini sebuah warisan kuliner yang patut dilestarikan.
Jika Anda berkesempatan mengunjungi Maluku, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi Kue Asida dan merasakan sendiri kelezatan manisan legendaris ini. Rasakan sensasi manisnya yang autentik, dan cicipi sepotong sejarah dalam setiap gigitannya.










Discussion about this post