|MITOS| Maqam Sayyid Jamaluddin di Desa Tosora menjadi salah satu bukti fisik yang menunjukkan keberadaan Islam di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.
Maqam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian peziarah dari luar, termasuk dari Jawa hingga beberapa negara tetangga.

Hal ini menunjukkan bahwa warisan Sayyid Jamaluddin masih dihargai dan diingat oleh banyak orang, meskipun jejak sejarahnya kurang dikenal secara luas.
Masyarakat Wajo mengenal Sayyid Jamaluddin al-Akbar al-Husaini sebagai Syekhta Tosora, yang merupakan tokoh penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Sayyid Jamaluddin, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad dan bagian dari Dinasti Fatimah, memiliki peran yang signifikan dalam memperkenalkan ajaran Islam di wilayah ini.
Baca juga: Syekh Jamaluddin Al-Husaini, Leluhur Para Wali Songo
Meskipun kedatangan tiga ulama dari Minangkabau pada abad ke-16, yaitu Datuk Ribandang, Datuk Ditiro, dan Datuk Patimang, sering dianggap sebagai peletak dasar ajaran Islam di Sulawesi Selatan, penting untuk dicatat bahwa Sayyid Jamaluddin sudah mulai menyebarkan Islam di Wajo sekitar abad ke-14 (1320), jauh sebelum berdirinya Kerajaan Wajo pada tahun 1399.
Sebelumnya, rombongan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini yang berjumlah 15 orang datang dari Aceh ke Majapahit atas undangan Raden Wijaya. Dari Majapahit akhirnya rombongan ini melanjutkan misinya ke Sulawesi Selatan, kedatangannya ke Wajo melalui Bojo Nepo (Barru) dan mengislamkan salah seorang raja Bugis yang bernama Lamaddusila.
Sayyid Jamaluddin menyebarkan Islam secara individual, yang menunjukkan pendekatan yang lebih personal dan mendalam dalam pengajaran agama. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas tentang Islam dan mampu menjelaskan ajaran-ajarannya dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat setempat._@ly/Arwan_










Discussion about this post