Makassar | MITOS | Acara Forum Grup Diskusi (FGD) Sastra Kepulauan yang digelar di Studio Kita Makassar pada Senin (30/12/2024) berhasil menyatukan aspek spiritual dan literasi.
Sebelum diskusi inti, para peserta diajak untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah dan mendengarkan kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh Asnawin Aminuddin.
Dalam kultumnya, Asnawin menekankan pentingnya verifikasi informasi, terutama di era media sosial. Ia mengambil kisah Harist bin Abu Dhirar sebagai contoh untuk menjelaskan bagaimana berita bohong dapat menimbulkan masalah besar.
Kultum yang disampaikan sebelum FGD merupakan pemanasan yang baik untuk diskusi yang akan berlangsung. Pesan tentang pentingnya verifikasi informasi dapat menjadi acuan bagi para peserta FGD dalam menganalisis karya sastra dan budaya yang dibahas.
Selain itu, nilai-nilai kejujuran dan kebenaran yang ditekankan dalam kultum juga dapat menjadi landasan bagi para sastrawan dalam menciptakan karya-karya yang bermutu.
Setelah sesi pembuka yang inspiratif, diskusi kemudian beralih pada tema utama, yaitu “Sastra Kepulauan: Representasi Identitas Nilai dan Fungsi Budaya Kepulauan”.
Para sastrawan dan budayawan Sulawesi Selatan turut berkontribusi dalam membahas peran sastra dalam merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara.
Penggabungan antara aspek spiritual (kultum) dan intelektual (FGD) dalam acara ini merupakan upaya yang patut diapresiasi.
Acara ini tidak hanya memberikan ruang bagi para sastrawan untuk berdiskusi, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menciptakan karya-karya yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.










Discussion about this post